INILAH 6 Dosa Ibu Ibu Kepada Tukang Sayur! No 3 Paling Sering Dilakukan tanpa disadari!


dunia ibu tidak dapat dilepaskan dari tukang sayur. Dapat disebutkan, orang ini yaitu pujaan serta dambaan beberapa ibu. Kemunculannya setiap hari ditunggu dengan berharap kuatir. Ketidakhadirannya diikuti oleh rasa kecewa, lantaran stock makanan hari itu terancam. Si ibu sangat terpaksa mesti keliling mencari tukang sayur lain, atau jadi mesti pergi ke pasar. 

Sejatinya hadirnya tukang sayur setiap pagi bikin beberapa ibu dapat lebih gampang serta cepat beroleh bahan menu yang dimimpikan. Namun ibu-ibu kerap juga seperti " musuh dalam selimut " atau " tidak suka namun rindu " pada tukang sayur. Mereka memerlukan, namun di segi lain mereka mau menghimpit tukang yang satu ini. 

Desakan-tekanan itu yang jadikan beberapa ibu ini lakukan kekeliruan/dosa tanpa ada berniat. Apa sajakah " dosa " ibu-ibu pada tukang sayur : 

1. Menawar dagangan terlampau murah 
Kekhasan berbelanja di pasar tradisional ataupun tukang sayur yaitu bahwa kita dapat menawar harga barang. 

Namun untuk harga sayur/buah/pangan pokok yang lain, umumnya pedagang akan tidak membandrol barang dengan harga yang terlalu tinggi. Terlebih dengan azas persaingan prima, mereka tidak ingin terlampau banyak selisih harga dengan pedagang lain karena cemas kehilangan pelanggan. Karenanya kita baiknya melindungi adab dalam menawar harga. Berilah tawaran harga yang sewajarnya. 

Jangan sempat pedagang melepas barangnya pada kita dengan rasa sangat terpaksa/tidak ikhlas. Keterpaksaan itu dapat kurangi keberkahan dalam barang yang bakal kita mengkonsumsi. 

2. Pesan satu barang namun tidak jadi dibeli. 
Ketahuilah bunda, modal yang dipunyai tukang sayur itu telah ada peruntukannya. Dia telah pelajari bahan apa sajakah yang mau dikulak sesuai sama kecenderungan customer. Bila kita pesan satu barang spesifik, modalnya dapat terpakai untuk kita. Bila kita tidak jadi membelinya, pasti jadi kerugian baginya. Masih tetap bagus bila barang pesanan kita itu ada yang menukar. Bila tidak, modal si pedagang bakal tertahan di barang itu. Ini bakal kurangi kemampuannya kulakan barang di hari selanjutnya. 

3. Berhutang pada tukang sayur kurun waktu lama, namun membayar tunai pada toko besar. 
Telah rahasia umum beberapa ibu berhutang pada tukang sayur, bahkan juga dalam periode waktu lama. Tetapi di saat yang relatif sama, ibu itu dapat beli beberapa barang di toko besar/swalayan. Telah pasti di swalayan ia mesti membayar tunai. Bukanlah permasalahan bila ibu tengah kesusahan keuangan. Namun sebaiknya dibarengi empati untuk menahan hasrat beli beberapa barang lain yang kurang butuh. 

Terlampau lama ibu berhutang, bikin tukang sayur jadi kekurangan modal. 

4. Mengutil 
Seseorang tukang sayur bercerita pada saya, di dalam keramaian orang berbelanja, sukai ada ibu-ibu yang mengutil barang. Tingkah laku itu bukan sekedar sekali namun dapat sekian kali dikerjakannya. Juga bukan sekedar satu-dua ibu yang melakukan pengutilan itu. 
Tukang sayur tidak ingin memberinya teguran lantaran kasihan bila ibu tsb jadi malu dihadapan orang banyak. 

5. Senantiasa mau dilayani lebih dulu. 
Lantaran ibu-ibu malas bersabar, tukang sayur jadi cemas. Terkadang hitung-hitungan manualnya kacau dengan kata lain salah harga. Ini dapat punya potensi menyebabkan kerugian. 

6. Berinisiatif mengambil bonus sendiri 
Terkadang ada ibu-ibu memberikan satu barang juga sebagai bonus/pembulatan harga belanjaannya. 

Baiknya kita bertanya dahulu pada tukang sayur apakah ia membolehkan? Bakal tambah baik bila ia yang memilihkan/memastikan type bonusnya. Sekalipun cuma sebutir tomat kecil yang kita minta, bila harga nya tengah tinggi pasti akan memberatkannya. 

Sekian beberapa hal kecil yang sering dikerjakan ibu-ibu pada tukang sayur. Semoga kita tidak termasuk juga dalam kelompok ibu-ibu yang lupa dalam soal itu. 

Kedzoliman kecil yang tanpa ada merasa kita kerjakan setiap hari tentu dapat semakin menumpuk jadi kedzoliman yang besar, na'udzubillah. 

Depok, September 2015 
Sofia S. Wardani 

Profil Penulis : 

Penulis yaitu ibu rumah-tangga dengan empat anak, tinggal di Depok. Terkecuali berkegiatan usaha online-offline kecil-kecilan, ia juga ikuti sebagian komune di orang-orang. 
Menulis, baginya yaitu suatu sistem berlatih harapan, karsa, serta usaha keluar dari zona nyaman.
Share on Google Plus

About kakak idar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.